TIGA BULAN
Ya, sudah tiga
bulan ini aku terus melihatnya, memperhatikannya di sekitarku.
Aku sudah di
sekolah ini selama 2 tahun dari tahun pertama aku masuk, dan baru di tahun
keduaku ini. Aku menyadari ada yang menarik mataku untuk lebih ingin melihat
yang kemudian menarik hatiku secara perlahan untuk lebih mengenal dan tahu
lebih.
Aku bukan orang
yang mudah penasaran atau tertarik terhadap seseorang, terhadap urusan orang
lain atau hal lain semacam itu. Tapi dia berbeda, sungguh aku bingung untuk
menjelaskan bagaimana caranya rasa penasaranku terhadapnya bisa membawaku duduk
di bawah pohon seorang diri dan memandanginya yang sedang sibuk membaca buku di
bangku taman sekolah.
Dia sendiri,
selalu sendiri saat aku melihatnya. Apakah dia tidak punya teman? Apa dia jenis
orang yang anti sosial atau semacamnya. Entahlah, aku tidak punya gambaran
tentang apapun dan siapa dia, sampai saat ini, aku hanya tau namanya dan
kelasnya. Selebihnya, apa aku tertarik lagi untuk mencari tahu? Aku bahkan
membutuhkan waktu 2 bulan hanya untuk mengetahui semua itu. Aneh bukan? Kita satu
sekolah, dan kita satu angkatan yang hanya terdiri dari 12 kelas setiap
angkatan, tapi sulit untuk mengetahui siapa dia yang sudah membuatku penasaran.
Dia bukan gadis
yang cantik ataupun menarik, seperti gadis yang sering aku lihat pada umumnya. Menurutku,
dia anggun dan sederhana. Jenis kesederhanaan yang memanjakan mata saat kau
melihatnya. Di balik kacamata itu, ada sepasang mata yang tidak pernah aku
berani tatap secara langsung. Hanya bisa memandang, memandang dari jauh, secara
sembunyi, tanpa ada orang yang tau.
Matahari siang
ini, tertutup daun pohon di atasku yang menemaniku, masih melakukan hal yang
sama, masih melihatnya. Senang saja hari ini bisa lebih lama aku melihatnya
karena sekolah berakhir lebih awal. Saat ku lihat dia, dia tidak pulang tapi
menuju taman, dan aku berakhir disini dalam keadaan seperti ini.
Aku masih
melihatnya dan tiba-tiba, dia melihatku, memergokiku, matanya menunjukkan rasa
aneh, tidak suka, dia menutup bukunya yang baru dibaca setengah halaman dan dia
pergi meninggal taman, meninggalkanku dalam keadaan tertangkap basah. Sial! Semoga
dia tidak berpikir aku orang aneh tukang menguntit orang atau semacamnya dan
bisa dipastikan setelah ini, aku tidak akan bisa bebas untuk melihatnya.
Kulemparkan tasku
ke atas kasur, kemudian kurebahkan tubuhku, memandang langit-langit kamarku
yang dicat putih. Kemudian teringat olehku kejadian tadi, saat di sekolah.
Sepertinya dia sudah tahu, jadi mungkin mulai sekarang aku tidak bisa secara
diam-diam melihatnya, apa mungkin harus secara terang-terangan? Apa harus? Aku
lebih suka melihatnya dari jauh, mengamati dari jauh, tanpa diketahui ataupun
dicurigai. Tapi setelah kejadian tadi, apa mungkin dia tidak curiga, atau mungkin
dia sudah tahu aku memperhatikannya sudah lama.
Tiba-tiba
ponselku bergetar, ternyata ada sms, ada nama Nino disana. Nino sahabatku sejak
SMP, tidak seperti aku, Nino cukup populer di sekolah, bagaimana tidak,
prestasinya sebagai ketua OSIS, ketua tim basket sekolah sudah cukup untuk
membantu mempopulerkan namanya ditambah dengan wajahnya yang tidak jelek, dan
dari semua orang luar yang melihatnya, hanya aku sahabatnya yang tahu semua
kepribadian yang dia miliki dan aku bersumpah jika aku wanita, aku tidak akan
pernah sedikitpun naksir dia.
Nino mengajakku
pergi, menghabiskan sabtu malam yang menyedihkan ini. Menyedihkan karena
tertangkap basah siang tadi, menyedihkan karena aku yang bahkan belum pernah
menyapanya namun meninggalkan kesan buruk pada gadis itu. Aku bingung bagaimana
harus memulai, mungkin aku hanya akan berjalan mengikuti takdir yang akan
membawaku dalam hal ini.

baca ini langsung keinget origami o.o
ReplyDeletewkwk, tapi ini ceweknya nggak suka nekuk-nekuk kertas u,u
ReplyDeletehaha iya sih
ReplyDeletetp so sweet jg kok kobs u,u